Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perlukah ini dipertimbangkan didalam Proses belajar mengajar? Mari kita simak pembahasannya

Menyesuaikan Penyusunan Perangkat Pembelajaran didalam Poroses Belajar Mengajar di Sekolah

Handphone merupakan sebuah perangkat teknologi yang dapat dikategorikan hsebagai barang yang relatif baru, yang dijadikan sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup manusia pada saat ini.

Benda ini, digunakan oleh semua manusia setiap hari, dapat kita lihat realita yang terjadi mulai dari anak-anak usia 3 Tahun hingga usia tua, bahwa alat ini sudah tidak lagi mengherankan bagi  kita. Pada zaman modern ini, penggunaanya tidak lagi hanya untuk menghubungkan orang tetapi juga menyediakan berbagai peluang hal penting yang sangat berharga dikalangan pendidikan, mencari informasi ataupun transfer informasi. Orang-orang muda saat ini tidak dapat dibayangkan lagi, jika keberadaan manusia tanpa Handphone dan akibatnya bagaimana, banyak studi yang meneliti atau menganalisa tentang pengaruh keberadaan dan kebermanfaatan barang tersebut pada kehidupan masa kini. Salah satu masalah yang berhubungan dengan Handphone adalah keberadaan dan penggunaannya di lingkungan sekolah dan sekarang dapat kita lihat melalui evaluasi bahwa terjadi pro dan kontra dari keberadaannya didalam kehidupan peserta didik, baik dari keluhan orangtua maupun pengamatan yang terjadi dilingkungan kita sendiri.

Informasi dari Riset Kominfo dan UNICEF Mengenai Perilaku Anak dan Remaja Dalam Menggunakan Internet melalui SIARAN PERS NO. 17/PIH/KOMINFO/2/2014 Menteri Kominfo mengatakan: "Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Teknoloqi tersebut merupakan alat untuk mewujudkan bangsa yang cerdas dan maju. Internet dapat memberikan manfaat besar bagi pendidikan, penelitian, niaga, dan aspek kehidupan lainnya. Kita harus mendorong anak-anak dan remaja untuk menggunakan internet sebagai alat yang penting untuk membantu pendidikan, meningkatkan pengetahuan, dan memperluas kesempatan serta keberdayaan dalam meraih kualitas kehidupan yang lebih baik." Hal serupa juga dikemukakan oleh Angela Kearney, UNICEF Country Representative of Indonesia : "Kaum muda selalu tertarik untuk belajar hal-hal baru, namun terkadang mereka tidak menyadari resiko yang dapat ditimbulkan. Penelitian bersama beberapa mitra ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan memastikan bahwa ada keseimbangan resiko dan peluang.
Hasil survei ditemukan sebagai fakta, bahwa:
Menurut data terbaru, setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, dan media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang mereka gunakan. Hasil studi menemukan bahwa 80 persen responden yang disurvei merupakan pengguna internet, dengan bukti kesenjangan digital yang kuat antara mereka yang tinggal di wilayah perkotaan dan lebih sejahtera di Indonesia, dengan mereka yang tinggal di daerah perdesaan (dan kurang sejahtera). Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta dan Banten, misalnya, hampir semua responden merupakan pengguna internet. Sementara di Maluku Utara dan Papua Barat, kurang dari sepertiga jumlah responden telah menggunakan internet.
Studi ini merupakan yang pertama diantara penelitian sejenisnya, dengan keunikan data pada golongan anak dan remaja yang belum pernah menggunakan internet. Kesenjangan yang paling jelas terlihat, di daerah perkotaan hanya 13 persen dari anak dan remaja yang tidak menggunakan internet, sementara daerah perdesaan, menyumbang jumlah 87 persen.
Mayoritas dari mereka yang disurvei telah menggunakan media online selama lebih dari satu tahun, dan hampir setengah dari mereka mengaku pertama kali belajar tentang internet dari teman. Studi ini mengungkapkan bahwa 69 persen responden menggunakan komputer untuk mengakses internet. Sekitar sepertiga 34 persenmenggunakan laptop, dan sebagian kecil hanya 2 persen terhubung melalui video game. Lebih dari setengah responden (52 persen) menggunakan ponsel untuk mengakses internet, namun kurang dari seperempat (21 persen) untuk smartphone dan hanya 4 persen untuk tablet.
Penelitian ini mengumpulkan data untuk mengarahkan kebijakan kedepan dalam melindungi hak-hak anak mengakses informasi dan, pada saat yang sama, berbagi informasi dan mengekspresikan pandangan atau ide-ide mereka secara aman.

Kementerian Kominfo melakukan penelusuran aktivitas online melalui sampel anak dan remaja usia 10-19 (sebanyak 400 responden) yang tersebar di seluruh negeri dan mewakili wilayah perkotaan dan perdesaan. Studi dibangun berdasar pada penelitian sebelumnya sehingga didapatkan gambaran yang paling komprehensif dan terkini tentang penggunaan media digital di kalangan anak-anak dan remaja Indonesia, termasuk motivasi mereka, serta informasi tentang anak remaja berusia 10-19 yang tidak menggunakan media digital. Dengan demikian, penelitian ini baru pertama kali dilakukan dibandingkan penelitian serupa lainnya di Indonesia. Hingga Kesimpulan utama dihasilkan dari studi tersebut bahwa:
Penggunaan media sosial dan digital menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari anak muda Indonesia. Studi ini menemukan bahwa 98 persen dari anak-anak dan remaja yang disurvei tahu tentang internet dan bahwa 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet.
Ada sekitar 20 persen responden yang tidak menggunakan internet, alasan utama mereka adalah tidak memiliki perangkat atau infrastruktur untuk mengakses internet atau bahwa mereka dilarang oleh orang tua untuk mengakses internet.
Perubahan struktur media di Indonesia, terutama dengan meningkatnya penggunaan ponsel, telah mengubah akses dan penggunaan media digital internet di kalangan anak dan remaja, yang cenderung menggunakan: personal komputer untuk mengakses internet di warung internet dan laboratorium komputer sekolah; laptop di rumah, dan diatas semua-ponsel atau smartphone selama kegiatan sehari-hari.
Anak-anak dan remaja memiliki tiga motivasi utama untuk mengakses internet: untuk mencari informasi, untuk terhubung dengan teman (lama dan baru) dan untuk hiburan. Pencarian informasi yang dilakukan sering didorong oleh tugas-tugas sekolah, sedangkan penggunaan media sosial dan konten hiburan didorong oleh kebutuhan pribadi.
Penelitian terhadap pola komunikasi anak dan remaja melalui internet mengungkapkan bahwa mayoritas komunikasi mereka dilakukan dengan teman sebaya, diikuti komunikasi dengan guru, dan komunikasi dengan anggota keluarga juga cukup signifikan.
Terkait isu privasi, secara umum studi ini menemukan bahwa ada banyak anak dan remaja yang memberikan informasi pribadi seperti alamat rumah, nomor telepon, atau alamat sekolah.
Dari aktivitas yang terjadi sebagian besar dari mereka, menyadari dan secara spontan untuk mengetahui akan pentingnya password untuk e-mail dan media sosial .
Selain itu, hampir semua dari mereka yang menggunakan tidak setuju terhadap isi pornografi di internet. Namun, sejumlah besar anak dan remaja telah terekspos dengan konten pornografi, terutama ketika muncul secara tidak sengaja atau dalam bentuk iklan yang memiliki nuansa vulgar.
Pihak orangtua mungkin ketinggalan dari anak-anak mereka dalam hal menguasai dan menggunakan media digital, sedikit dari orangtua yang mengawasi anak-anak mereka ketika mengakses internet, dan sedikit yang menjadi 'teman' anaknya dalam jejaring sosial.
0rangtua dan guru semakin menyadari manfaat media digital untuk mendukung pendidikan dan pembelajaran anak. Misalnya, semakin banyak guru yang menugaskan siswa untuk mengumpulkan informasi dari internet untuk mengerjakan berbagai tugas. Hal ini langkah yang baik untuk meningkatkan pemanfaatan internet sebagai sarana pendidikan.

Penggunaan media sosial dan media digital berkembang secara cepat dan signifikan di kalangan muda namun dukungan orangtua dan integrasi media digital dalam pendidikan masih tertinggal. Sehingga saatnya untuk mengejar ketinggalan. Rekomendasi utama yang dihasilkan dari studi yang dilakukan  menyampaikan bahan masukan bahwa: 
Internet telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari anak-anak dan remaja di Indonesia,  maka diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan mereka dalam kaitannya dengan keamanan berinternet. Hal ini dapat dicapai melalui sosialisasi, pendidikan Iiterasi maupun pelatihan. Pemahaman penggunaan dan keamanan media digital sangat penting utamanya dari perspektif anak-anak dan remaja, sebelum merancang program-program informasi tentang keamanan digital. Termasuk memahami tentang cara mereka mengartikan dan menggunakan teknologi digital, komunikasi secara online dan perilaku berisiko atau tidak aman.
Anak-anak dan remaja tertarik untuk belajar tentang keamanan berinternet. Setiap kampanye atau program yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus didasarkan dengan meIibatkan anak-anak dan remaja itu sendiri sehingga kampanye atau program tersebut tepat sasaran.
Pihak orang tua dan guru harus mengawasi dan mendampingi anak-anak mereka dalam aktivitas digitalnya, dan terlibat didalamnya. Salah satu cara sederhana, contohnya orang tua dapat menjadi 'teman' di akun jejaring sosial anak, karena di sinilah anak-anak dan remaja 'bermain' melalui dunia maya. Di sini orang tua dapat bergabung dan berkomunikasi secara intensif dengan anak-anak untuk menciptakan lingkungan yang aman dan positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka.
Pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap keamanan isi internet tersebut adalah ISP dan pemerintah perlu meningkatkan keamanan konten atau proteksi sehingga dapat menjadikan dunia maya sebagai ruang yang aman dan positif bagi anak-anak dan remaja untuk hidup dan tumbuh. Dari studi yang dilakukan ini  juga ditemukan bahwa, banyak anak-anak yang tidak terlindungi dari konten negatif yang ada di internet, sebagian besar sampai kepada mereka tanpa sengaja melalui pesan pop-up atau melalui link yang menyesatkan.
Perlu perhatian khusus untuk memberikan informasi bagi anak dan remaja tentang resiko bahaya yang mungkin timbul dari pertemuan langsung dengan seseorang yang baru dikenal dari dunia maya.
Para orangtua dan guru perlu mengetahui dan terlibat dalam program keamanan digital bagi anak dan remaja.
Pesan-pesan tentang keamanan digital harus berimbang dengan menekankan pada kemanfaatan internet bagi pendidikan, penelitian, dan perdagangan.
Anak-anak dan remaja harus terus dimotivasi untuk memandang dan menjadikan internet sebagai sumber informasi yang berharga, dan untuk memanfaatkan teknologi digital secara maksimal untuk membantu pendidikan, meningkatkan pengetahuan, memperluas kesempatan dan keberdayaan mereka dalam meraih kualitas kehidupan yang lebih baik.
Perlu dikembangkan cara-cara efektif untuk mengkampanyekan keamanan digital secara online maupun offline melalui segala bentuk saluran media tradisional maupun digital, seperti televisi, radio, websites, atau media sosial yang sering digunakan oleh anak dan remaja.
Dibutuhkan kader-kader muda teladan dalam keamanan berinternet, yang dapat membagikan hal tersebut kepada teman-temannya melalui media digital, melalui sarana audio dan video di media massa, maupun secara offline di sekolah-sekolah.

Data statistik yang mengesankan pada penggunaan Handphone di lingkungan sekolah Selain fungsi utama telepon, saat ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Ini dianggap sebagai simbol status terpenting kedua di antara remaja (yang pertama adalah pakaian), jadi tujuan utamanya hari ini adalah untuk mempertahankan status sosial anak sekolah.

Melalui fakta-fakta yang terjadi atas penyalah gunaan barang tersebut dikalangan peserta didik, menunjukkan secara jelas bahwa telepon seluler harus dilarang di sekolah, tetapi tetap saja ada banyak perdebatan yang tersisa karena manfaatnya juga sangat penting. 

Namun ada juga beberapa alasan mengizinkan peserta didik untuk menggunakan ponsel di sekolah diantaranya sebagai berikut :
1. Siswa diajarkan dan ditekankan
Hal ini dilakukan agar peserta didik dapat bertanggung jawab atas fungsi ponsel yang dimiliki sebagai adalah sebagai alat yang kuat ditangan peserta didik  namun harus dipertimbangkan bahwa peserta didik tersebut dapat izin menggunakan perangkat seluler. Dengan cara ini diharapkan dapat melatih dan mengajarkan para kaum muda untuk memperlakukan telepon mereka dengan tanggung jawab dan sebagian besar untuk tujuan pendidikan. Ponsel dapat bermanfaat pada pelajaran untuk menemukan beberapa informasi tambahan, tetapi mereka harus ditinggalkan di luar kelas untuk memerangi terjadinya sebuah kecurangan yang tidak di inginkan.
2. Menghindari pemahaman ganda
Hal yang wajar bahwa peserta didik akan menunjukkan ketidak nyamanan dan  jika guru diizinkan menggunakan telepon seluler dan peserta didik tidak. Selain itu, jika ada larangan resmi menggunakan ponsel di sekolah dan seorang guru melihat dengan perangkatnya di tangan, dia tidak akan pernah menghadapi konsekuensi yang sama yang harus dihadapi siswa ketika tertangkap basah oleh pihak sekolah.
3. Kasus darurat 
Salah satu alasan utama mengapa orang tua mengizinkan anak-anak mereka membawa ponsel ke sekolah. Kondisi ini merupakan sebuah kasus darurat. Setiap sekolah tidak diasuransikan dari ancaman, bencana atau kecelakaan dan orang tua merasa lebih aman jika mereka dapat terhubung dengan anak mereka kapan saja. Selain itu, peserta didik lebih cenderung lupa untuk cepat kembali kerumah dan panggilan kerumah dapat mencegah seorang anak dari problema yang dapat diterima untuk mengakui kesalahan atau kendala yang dialami oleh oeserta didik itu sendiri.
4. Untuk tujuan pendidikan 
Selain berbagai fungsi yang mengalihkan perhatian para peserta didik, ponsel juga dapat digunakan sebagai alat bantu belajar. Kalkulator, mencari materi tambahan, representasi visual, kosakata, kalender dan beberapa fungsi yang dapat berguna untuk belajar. Apalagi saat ini terjadi keragaman aplikasi pendidikan modern yang dapat memberikan pengetahuan tambahan di berbagai bidang studi.
5. Bantuan Memori
Peserta didik selalu kesulitan menghafal volume informasi yang disediakan di sekolah. Sehingga dengan pemanfaatn Ponsel dapat menjadi asisten yang baik dalam tugas mereka, karena cukup untuk mengaktifkan kamera dan membuat foto untuk menyimpan informasi penting. Siswa juga senang membuat catatan suara untuk dapat melacak kebutuhan dan tugas mereka. Kalender juga merupakan hal yang sangat penting karena anak-anak dapat mengatur tugas dengan pengingat untuk masa depan dan melakukannya tepat waktu. Ini membantu untuk menjadi lebih teratur karena kertas dan buku catatan memiliki kecenderungan hilang atau dilupakan atau tertinggal, namun hal yang  sangat indah bahwa telepon tidak pernah ditinggal.
6. Pelacakan GPS 
Hampir tidak ada orang tua, yang tidak ingin tahu persis di mana anaknya berada. Melalui pemanfaat GPS akan dapat melakukan Pelacakan GPS yang sangat bermanfaat bagi orang tua. Mereka dapat dengan mudah menentukan lokasi anak dan bahkan jika seorang anak dilaporkan hilang, dia akan jauh lebih mudah untuk menemukan jika dia memiliki ponsel.

Inilah beberapa alasan dilarang membawa  Ponsel tersebut kedalam Kelas.
Sebagai sumber debat publik banyak perwakilan staf sekolah masih, fokus pada kelemahan ponsel dan pengaruh buruk pada proses pendidikan. Banyak lembaga pendidikan telah memperhatikan kerugian yang lebih besar dari ponsel untuk siswa dan melarang harus melarang mereka, tetapi semua tampaknya hanya semacam permainan bagi siswa, yang masih menemukan peluang untuk membawanya di sekolah.
Mari kita lihat masalah sederhana yang ditimbulkan oleh kepemilikan Handphone didalan kehidupan sehari-hari:
1. Pengalihan perhatian 
Menyadari tujuan utama bahwa di sekolah  adalah untuk belajar. Dengan adanya ponsel disamping peserta didik akan membuat dia kehilangan fokus dan lebih tertarik pada ponsel dari pada topik pelajaran. Beberapa siswa mengunjungi jejaring sosial atau berkomunikasi melalui pesan instan, yang lain bermain game atau menemukan kegiatan lain yang lebih menarik dari pada belajar.
2. Kecurangan 
Kecurangan juga dapat ditemukan pada usia teknologi saat ini dengan munculnya ponsel dan tablet. Sekarang tidak perlu untuk memberikan catatan atau berbisik jika sudah dapat mengirim pesan teks atau menjelajahi internet untuk mendapatkan jawaban yang benar. Tentu saja, akan sebuah pertanyaan besar di mana seorang guru ketika ponsel dan tablet sudah dijadikan sebagai guru. 
Cara sederhana dapat dilihat bahwa,  setiap peserta didik dapat meminta diri untuk mengunjungi kamar mandi dan melakukan tugasnya di sana. Ada juga beberapa aplikasi hebat seperti kalkulator atau perpustakaan dengan buku yang akan digunakan.
3. Sasaran Bahaya
Ponsel segera menjadi target untuk pencuri dengan berbagai cara atau trik mencarai korban. Selain itu, beberapa orang tua tidak mengerti bahwa pembelian perangkat mahal untuk anak-anak juga dapat membuat anak-anaknya menjadi sasaran serangan dan cedera. Pencuri dapat melihat korban mereka di mana saja: di jalan, bis atau sekolah, sehingga anak-anak tidak terlindungi. Perangkat mahal semacam itu juga dapat menimbulkan kecemburuan dan dapat juga melakukan uji coba mencuri atau merusak benda itu dengan sengaja. Itu adalah alasan yang bagus untuk tidak membawa ponsel ke sekolah.
4. Berbagai status sosial 
Salah satu status yang dimaksud adalah status ekonomi setiap murid Tidak semua orangtua mampu membeli smartphone atau bahkan telepon. Tidak semua Orangtua yang dapat menyajikan anak-anak mereka dengan perangkat yang sangat mahal yang menjadi alasan kecemburuan dan kebencian orang lain. Bahkan guru kadang-kadang terkejut dengan hal-hal yang dibawa ke sekolah oleh murid, apalagi anak-anak. Untuk ponsel telah menjadi simbol status saat ini, disarankan untuk meninggalkan mereka di rumah untuk menghindari masalah.
5. Sumber radiasi elektromagnetik .
Medan elektromagnetik yang diproduksi oleh telepon datang ke kontak langsung dengan otak peserta didik dan mempengaruhi keseluruhan keadaan organisme. Orang-orang, yang menggunakan telepon seluler, beberapa penelitian para ahli, bahwa seseorang yang memiliki dan mempergunakan ponsel didalam kesehariannya, lebih dominan terkena tumor otak, neuromas akustik. Ada konsekuensi kesehatan buruk lainnya seperti leukemia, infertilitas dan berbagai jenis kanker. Mari kita bayangkan bersama-sama bahayanya sangat sensitif.

Dari semua penjelasan diatas, tidak diragukan lagi, bahwa ponsel memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi itu tidak  akan dapat diposisikan sebagai asisten yang diinginkan di sekolah. Sekolah bukanlah tempat yang membutuhkan perangkat mahal seperti itu. Selain itu, kalau untuk belajar perangkat tersebut dapat digunakan di rumah juga, sangat  jauh lebih sulit untuk mengontrol penggunaan ponsel di kelas. Para ilmuwan menegaskan fakta bahwa ponsel harus dilarang di sekolah tetapi agar larangan ini berfungsi dengan baik, orang tua juga harus berkontribusi pada fakta ini dan memantau anak-anak mereka. Akibatnya, proses pendidikan akan lebih produktif dan mudah dikendalikan.